Cikarang Dry Port

Diajak Bea Cukai Main ke Cikarang Dry Port

“Beliau bukan lagi narsis, lho!,” ujar Andi Chakra Sessu dari Bea Cukai Kantor Wilayah Jawa Barat. Pria bercambang tipis semacam dapat menebak ini hati saya yang sempat berkata “Harus banget foto dulu?”. Dari sini cerita jalan-jalan di Cikarang Dry Port dimulai.

Saya mengaku salah. Saya terlalu cepat menilai orang lain tanpa tahu bahwa berfoto di depan peti kemas, yang baru dibuka setengah sambil memperlihatkan nomor yang tertera di pintu sebelah kiri, merupakan Standar Operating Procedure (SOP) sebelum pengecekkan barang dilakukan.

Mungkin perilaku buruk di atas merupakan dampak dehidrasi. Bagaimana tidak? Cuaca di CDP yang terletak di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat pada pertengahan bulan November 2016, bikin kepala bagian belakang terasa pusing. Kaos yang saya kenakan juga tidak maksimal menyerap keringat yang membasahi sekujur tubuh.

Cikarang Dry Port
Maafkan saya, Om, telah berprasangka buruk. Mungkin siang itu, di Cikarang Dry Port, saya sedang mengalami dehidrasi akut.

Cikarang Dry Port, kalau diterjemahkan kata per kata, kurang lebih memiliki arti pelabuhan kering yang ada di Cikarang. CDP merupakan tempat segala macam dokumen serta perizinan dapat diselesaikan. Dengan kata lain, Cikarang Dry Port sebagai perpanjangan pintu gerbang pelabuhan Tanjung Priok.

Kalau kereta sudah jadi, tugas dari Bea dan Cukai akan menarik kontainer dikeluarkan di Tanjung Priok, sebagian lagi akan diperiksa Cikarang Dry Port yang memiliki luas 250 ha dan mulai beroperasi pada 2010. Sebab, sudah ada kantor Bea dan Cukai di sana. Tempat Karantina sudah tersedia.

Cikarang Dry Port
Sebelum peti kemas yang masuk ke Cikarang Dry Port dibuka, lalu kemudian diperiksa oleh petugas Bea Cukai RI, terlebih dulu nomor registrasi atau label yang tertera di pintu kontainer difoto.

Kemudian, enam orang berseragam hijau dan bertopi putih yang ditunjuk langsung oleh klien (importir) dari Bea dan Cukai, mulai membuka pintu peti kemas yang sebelah kiri. Mereka juga yang akan membuka dan memeriksa isi dari tumpukan kardus yang ada di peti kemas.

Sedangkan petugas Bea dan Cukai, kata Andi, hanya mencocokkan data barang apakah sesuai dengan dokumen yang telah mereka terima. Juga ikut mengawasi pemeriksaan barang-barang itu.

Tumpukkan kardus di dalam kontainer berwarna biru berisi barang milik ritel furnishing terbesar di Indonesia yang menyediakan lebih dari 60.000 produk berkualitas yang datang dari Cina. Berupa kursi kantor tanpa pegangan dengan dua pilihan warna; merah dan cokelat.

Cikarang Dry Port
Setelah difoto nomor label di stempel kuning dan sebelum om petugas Bea Cukai berfoto di peti kemas yang masuk ke Cikarang Dry Port, petugas hijau ini yang membuka pintu peti kemasnya. Dibuka setengah dulu, baru kemudian dibuka keduanya

Bisa dibilang prosedur pengecekkan barang di area fasilitas pemeriksaan fisik cukup menguras tenaga. Begini, guna mencocokkan data yang dipegang pihak Bea dan Cukai, metode sampling dilakukan dengan cara mengeluarkan 10 sampai 20 persen dari jumlah (kurang lebih) 100 kardus. Belum lagi, om-om yang semula saya curigai memiliki tingkat kenarnisan melebihi rekan kerja yang lain, harus mendokumentasikan dan membuat berita acara seluruh tahapan pengecekkan.

Tidak kebayang kalau semua kardus dikeluarkan, yang kemudian akan dimasukkan kembali setelah semua dirasa cocok. Pegel juga keleus!

Petugas Bea dan Cukai terlebih dulu memfoto setiap kardus yang dibuka untuk diperiksa. Kemudian, mulai mengecek semua data yang tercantum di kardus. Misal, material apa saja yang digunakan, apa saja warna dari barang itu, sampai perintilan tidak luput dari pemeriksaan.

Cikarang Dry Port
Semangat om kerjanya. Meski Cikarang Dry Port panasnya luar biasa, tapi om harus tetap semangat demi Bea Cukai tercinta.

Masih kata om Andi (saya memanggil om biar terkesan akrab. Jangan protes, plis!), 10 sampai 20 persen dirasa cukup selama tidak ada yang mencurigakan. Kalau terendus hal-hal yang mencurigakan, mau bagaimana lagi? Bisa-bisa kardus yang dikeluarkan untuk dicek tentu lebih banyak lagi.

“Nanti, sebanyak dua atau tiga kardus terakhir yang dikeluarkan, akan dimasukkan ke sana,” kata Andi menunjuk mesin X-ray yang ada di sebelah kiri dari pintu masuk area tersebut. Tidak lain untuk melihat isi kardus. Bisa saja hanya kardus di bagian depan yang sesuai dengan yang ada di dokumen. Ya, hari gini, oknum-oknum “nakal” punya banyak cara buat mengelabui orang lain.

Apabila dirasa sudah sesuai, dengan terlebih dulu menghitung jumlah kardus yang tidak dikeluarkan dari peti kemas secara manual, semua kardus dimasukkan kembali dan diberi tanda bahwa sudah melewati proses pemeriksaan.

Cikarang Dry Port
Serius sekali om mengecek dan menyesuaikan semua data yang tertera di kardus dan di kertas yang om pegang itu. Tetap semangat om. Karena om dan #AkuBeaCukai

Semestinya pemerintah mengoptimalkan peran dari Cikarang Dry Port. Sebab, waktu bongkar muat (dwelling time) kontainer jadi terpangkas. Waktu tunggu di CDP juga relatif rendah, yaitu hanya dua hari. Meski masih terganjal fasilitas kereta yang belum terjangkau sampai ke Cikarang.

Foto kiriman Kepin Helmy (@kepinhelmy) pada

Penggunaan E-seal di Cikarang Dry Port

Bea dan Cukai juga mewajibkan pihak Cikarang Dry Port membuat satu sistem agar barang yang keluar dari pelabuhan Tanjung Priuk tidak pergi ke mana-mana, tidak hilang, tidak bertambah, dan tidak berkurang. Oleh karena itu, semua truk wajib dan kudu memasang satu alat dengan nama E-seal di belakang pintu kontainer. E-seal ini mirip sama ponsel yang kita punya. E-seal dilengkapi dengan GPS, GPRS, dan RFID.

Siang itu, saya, Umen, Ajeng, Aryan, Helmi, dan Krisna terlalu lama melihat proses pengecekkan peti kemas, sehingga kelewat  menengok kontainer yang baru masuk, yang ada E-seal di pintu belakang. Mau melihat truk berikutnya, posisi masih di Bekasi dan masih lama sampai di Cikarang Dry Port.

Namun, kami diajak ke ruang monitoring. Di sana ada layar besar berupa peta Jakarta yang berfungsi melihat gerak-gerik truk yang membawa peti kemas dari Tanjung Priok untuk dilakukan proses pengeluaran di Cikarang Dry Port. Bahkan, kecepatan dari truk itu juga kelihatan.

E-seal tidak hanya berfungsi sebagai alat monitoring, mengawasi pergerakkan truk dari Tanjung Priok ke Cikarang Dry Port. Yang mana jalur sudah ditentukan sehingga truk tidak bisa mencari jalan alternatif kalau-kalau bertemu kemacetan. Fungsi lain dari E-seal digunakan sebagai electronic lock, di mana pintu kontainer tidak bisa dibuka kecuali kalau mereka merusak alat ini. Kalau ada orang nakal yang membuka paksa pintu kontainer dengan merusak E-seal, alat itu akan mengirim sinyal ke sistem Cikarang Dry Port atau ke Bea dan Cukai.

Informasi mengenai Cikarang Dry Port dan Bea Cukai RI

Kalian tentu setuju dong, kalau saya bilang Bea dan Cukai ini keren banget. Hari itu saya bersyukur, diajak seorang teman berkunjung ke Cikarang Dry Port dan melihat langsung proses perizinan sebelum barang-barang yang masuk ke Indonesia sampai ke tangan masyarakat. Semoga om-om petugas Bea dan Cukai tidak marah, karena saya terlanjur berprasangka buruk.

Masih banyak kok cerita seru dari Bea dan Cukai yang bisa kalian lihat. Saran, follow Bea dan Cukai di Twitter dan Instagram dengan akun @beacukaiRI. Atau klik #AkuBeaCukai untuk membaca cerita seru dari teman-teman lain yang diajak seru-seruan sama Bea dan Cukai. Siapa tahu, Bea dan Cukai bakal mengajak kamu ke tempat yang lebih seru dari Cikarang Dry Port.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

5 comments

  1. Wuih… selama 20 tahun saya nunut kerja di ekspor mebel, baru kali ini tahu pemeriksaan bea cukai. Selalu hanya berupa cerita klien saja. TFS Mas

    1. 20 tahun, Mbak? Lama banget. Saya juga baru tahu kemarin itu. Kalau tidak diajak, mana mungkin saya tahu prosedur semacam ini. Jangan lupa difollow akun Instagram dan Twitter milik Bea Cukai RI, Mbak. Biar tahu update apa saja. Siapa tahu giliran Mbak Susi yang diajak ke sana.

      Omong-omong, TFS itu apa, Mbak?

  2. wah artikelnya keren mas. Itu gimana ceritanya bisa masuk ke tempat bea Cukai.
    wah jangan-jangan mas ini yang dicurigai sebagai orang punya narsisme tingkat tinggi di artikekl di atas yah hehehe.
    tulisan yang menarik mas, enggak banyak yang menulis tentang Bea Cukai. jadi artikel mas ini menjadi nformasti tambahan yang menarik.
    oh iya mas kalau cari tips fotografi mampir juga dong ke blog saya di
    gariswarnafoto[dot]com
    yuk mariii

    1. Mas Zaki ini, lho. Ya kali saya penyudup. Badan gede begini, pasti bakal ketahuan kalau masuk diam-diam ­čść

      Diajak teman, Mas. Makanya, mas Zaki follow Twitter dan Instagram Bea Cukai, biar dapat giliran,

      Oke, mas, nanti saya akan main.

  3. Kerja bea cukai ternyata melelahkan yaaaa, kmrn aku ke bandara pergudangan dan liat bongkar2 barang ngecek ini itu lalu capek

Tinggalkan Balasan