Cerita di Balik Demo Kenaikkan Harga BBM (22 Juni 2013)

Hari itu saya tidak ngeuh sama sekali, kalau di gedung DPR bakal ada demo besar-besaran, menolak naiknya harga BBM. Padahal, pagi harinya, saya sudah wanti-wanti ke David, seorang teman reporter yang bakal bertugas di gedung DPR, untuk berhati-hati.

Singkat cerita, sore harinya sepulang saya liputan dari Kementerian Kesehatan di Rasuna Said, Kuningan, saya memutuskan untuk pulang langsung, dan tidak balik dulu ke kantor, malas! Karena tidak ngeuh sama sekali itu, saya memutuskan untuk pulang menggunakan CommuterLine dari stasiun Palmerah, yang mau tak mau harus melewati gedung DPR, bukannya dari stasiun Tanah Abang yang jelas-jelas membuat saya aman.

Saya baru sadar, ketika bus yang saya tumpangi masuk TOL, yang di hari-hari biasa sangat jarang bus itu masuk ke dalam TOL. Seisi bus pada heboh, menanyakan mengapa bus itu masuk TOL. Dengan mukanya yang super lempeng, si kernet menjawab, “Ada demo, Pak, Bu, di depan DPR. Jadinya, bus ini masuk TOL.”

Baru deh, ketika mendengar ucapan si kernet itu saya baru merasakan panik dan bingung mau melakukan apa. Saya tahu, kalau mau ke Palmerah, dan bus berada di dalam TOL, bus harus berhenti tepat di depan gedung DPR yang kebetulan memang di situ ada jalan keluarnya. Saya berusaha untuk membuat diri ini tenang. Saya tanyakan kembali ke kernetnya, apakah ada jalan lain untuk sampai ke Palmerah, tanpa harus berhenti di depan gedung DPR. Si Kernet menjawab, “Ada, Mas, tapi di depan Mal Taman Anggrek,” . Ish, jawaba ngeselin. Nggak nolong!

Bus berhentilah di depan gedung DPR. Setidaknya ada 10 orang penumpang yang turun di situ, dan ingin melanjuti perjalanan ke Palmerah. Nahas, saya turun paling akhir, dan 9 orang penumpang lainnya sudah duduk di atas motor ojeg yang siap mengantar mereka ke Palmerah. Sial, tak ada sisa ojeg yang dapat saya tumpangi.

Karena panik yang masih mendera diri ini, saya pun langsung BBM David, untuk menanyakan apakah sore itu para pendemo sudah jinak?, eh si David malah jawab “Jinak sih beluman Diitoo. Memangnya kamu di mana? Hati-hati lewat depan gerbang DPR, lagi pada berorasi. Numpang-numpang saja kalau mau lewat. Anggap saja, dikau lagi melewati pohon keramat. Hahaha,”

Hmmmm… Ya… Jawaban dari David sedikit menghibur. Tapi, tetap saja dagdigdug jantung ini ketika benar-benar hendak melewati para pendemo itu.

Demo tapi merokok. Pret

Barisan pendemo yang pertama saya lewati adalah mereka ini. Heeh, pendemonya adalah mahasiswa yang saya tak tahu mereka berasal dari Universitas mana. Yang jelas, yang ada di pikiran saya, demo kok sambil merokok? Katanya mereka itu kan demo menolak kenaikkan BBM. Kalau menolak, tandanya mereka susah, dong? Kalau memang susah, kenapa masih merokok?

Atau mereka adalah mahasiswa yang masih minta sama orangtua? Jadi, kalau BBM naik, mereka nggak bisa minta uang jajan lebih sama orangtua, agar sisa uang beli bensin bisa beli rokok. Makanya, mereka demo (?)

Sayang banget nggak, sih?

Pendemo di Barisan Kedua

Setelah melewati barisan para mahasiswa, saya melewati baris kedua, yang saya masih tak tahu mereka berasal dari mana. Masih sama seperti mahasiswa, di antara jari-jari yang ada di tangan mereka, masih terselip batang rokok.

Dan saya sempat mendengar obrolan mereka, “Capek juga, demo-demo begini,”. Lah, piye, toh?

Perkumpulan ibu-ibu

Tepat di sebelah para bapak-bapak duduk karena kelelahan habis demo sesi pertama, terdapat perkumpulan ibu-ibu yang tengah asyik makan dan mengobrol. Nggak tahu lagi deh, apa yang ada di benak mereka, ketika memutuskan untuk ikutan berdemo seperti ini. Enggak kasihan sama badan apa, ya?

Coretan ‘Kandang Babi’ di Tembok
Corat-corat tembok

Bukannya saya mau ngebelain anggota DPR atau apalah. Tapi, kok ya coretan di tembok itu kurang enak dilihat. Kandang Babi? Sehina itukah anggota DPR, sampai disamakan dengan babi? Masyarakatnya itu aneh. Giliran para anggota dewan mengeluarkan duit untuk mempercantik halaman depan gedung DPR, dibilang menghambur-hamburi duit.

Lah, kalau sudah rusak dan jelek seperti itu, mau tak mau anggota DPR bakal mengeluarkan duit untuk ngecat dan memperbaiki yang rusak bukan? Bukannya itu bakal menjadi kesempatan mereka untuk mengeluarkan duit negara lebih banyak lagi. Iya enggak, sih?

*geleng-geleng kepala*

sampah di mana-mana
sampah lagi
Pedagang

Lebih miris sih, yang bagian ini, sampah di mana-mana.  Aseli, gedung DPR kala itu sudah seperti pasar becek. Sampah tergeletak di mana-mana. Kalau yang demo adalah pasukan Operasi Semut, pasti sampah-sampah yang ada bakal dipunguti, dikumpuli, dan dibuang ke tempat yang semestinya. Sayang, hari itu tidak ada pasukan Opsem di situ.

Tapi ya, saya sih berharap, semoga ada orang-orang yang mendapatkan rezeki berlimpah dari sampah-sampah yang ada di tempat itu. Kalau dikumpulin sih, menggunung itu pastinya.

Lalu, ada rasa miris ketika saya tanya ke para pedagan yang ada di sana, sudah dapat berapa rupiah penghasilan mereka saat itu? Mereka menjawab, “Yah, Mas, boro-boro untung. Balik modal saja belum ini!,” . *pukpuk*. Itu tandanya? Ah, sudahlah.

Setelah melewati banyaknya barisan para pendemo, saya pun akhirnya bisa ‘bernapas lega’. Fiuh… Lega. Saya langsung melanjutkan perjalanan ke Palmerah, yang jaraknya tak begitu jauh.

Tapi, tapi, tapi, ketika saya hendak melanjutkan perjalanan, ada pemandangan yang cukup membuat saya tertawa lepas. Pendomo tidur di busway yang ada di depan gedung DPR. Hahaha 😆 . Ternyata, demo itu melelahkan, ya. Buktinya ini, mahasiswa ini tidurnya pulas sekali.

Makanya, adik-adik, besok kalau mau demo siapkan stamina yang fit, biar nggak ngantuk. Kalau kira-kira ngantuk banget, mending pulang, tidur di kamar yang empuk. Daripada tidur di jalanan seperti itu, memangnya enak? Pasti enggak, ‘kan!? Karena terpaksa, lanjut, deh :p

Lelap sekali tidurnya
Nyenyak sekali tidurnya

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

7 comments

  1. Hahaha.. Updatenya telat sebulan.

  2. Gemes liat pager dicat gitu. Itu nanti duit kita lagi dipake buat cat ulang. Huhuhu..

    1. nah, kan. Makanya itu.

  3. pertanyaan gue satu: Itu kamu (dan atau para wartawan lainnya) aman2 aja ya waktu ngambil gambar mereka? Mereka gak marah/ khawatir wajahnya dikorankan/ gimana? <– oke, itu dua pertanyaan 😀

    1. Itu aku yang foto. Pake kamera hape. Diem-diem. Hahaha

  4. Anatra mau ketawa (miris) baca ini:
    ->>Katanya mereka itu kan demo menolak kenaikkan BBM. Kalau menolak, tandanya mereka susah, dong? Kalau memang susah, kenapa masih merokok?

    Atau mereka adalah mahasiswa yang masih minta sama orangtua? Jadi, kalau BBM naik, mereka nggak bisa minta uang jajan lebih sama orangtua, agar sisa uang beli bensin bisa beli rokok. Makanya, mereka demo (?)

  5. Chaerul mengatakan, sebanyak 6.000 personel polisi, baik yang berseragam maupun berpakaian sipil, akan dikerahkan untuk pengamanan aksi demonstrasi. Personel yang dilibatkan merupakan aparat gabungan dari Polda Metro Jaya dan polres, polisi lalu-lintas, brigade mobil, pengendalian masyarakat, dan intelijen.

Tinggalkan Balasan