Cemal Cemil Bandung: Nasi Timbel Raos Dago

Jalan-jalan ke Bandung akan terasa hambar kalau belum nyobain `Nasi Timbel Raos Dago`. Begitu kata Mas Rommy, bos dari kanal sebelah yang ikut bersama saya dan tim melakukan perjalanan dinas ke sana sebulan lalu.

Berhubung ‘dukun’ satu ini tukang makan dan tahu makanan enak itu seperti apa, yasudahlah saya manggut saja. Toh dibayarin ini.

Sekitar pukul 17:00 WIB, selepas melakukan wawancara video di Taman Jomblo, bergegaslah kami menuju tempat makan yang dimaksud, sebelum saya dan tim mencari penginapan.

Sepanjang perjalanan, Mas Rommy semacam spoiler gitu, menceritakan tentang keenakan masakan yang ada di Nasi Timbel Raos Dago ini. Kata dia tempatnya itu eksklusif, hanya disediakan beberapa kursi dan meja saja. Sangking eksklusifnya, kita tidak bisa berlama-lama karena harus bergantian dengan tamu lainnya. Semakin penasaran, dong.

Setelah melewati perempatan Dago, Mas Rommy menunjuk sebuah restoran yang cukup luas, yang ada di ujung jalan. Seakan menandakan letak dari tempat makanannya itu.

Saya sempat bingung, lantaran mobil yang kami naikin berhenti dan parkir bukan di restoran itu, melainkan di FO yang ada di sebelahnya. Ternyata, saudara, tempat makannnya itu bukanlah restoran yang ditunjuk Mas Rommy ini, tapi sebuah tenda kecil yang nyelip di depan restoran mahal itu dan tangga sebuah jembatan penyebarangan. Kampret.

Tempat yang dibilang eksklusif itu

Yaialah, tempat sekecil ini sudah pasti ‘eksklusif’! #menurutngana. Mau tak mau tamu harus bergantian makannnya. Bayangin saja, mejanya cuma ada empat, satu meja cuma bisa menampung dua sampai orang. Sial!

Melihat saya yang kebingungan, Mas Rommy cuma bisa tertawa penuh kebahagian. Tempatnya itu kecil banget dan rapet. Buat pengunjung yang badannya besar dan tinggi seperti saya, pasti akan kelabakan.

Don’t judge book from the cover pantas disematkan untuk tempat makan ini. Meski kecil dan nyelip, makanannya itu enak gilaaaaa.

Namanya juga `Nasi Timbel Raos Dago`, sudah pasti yang dijual nasi timbel bersama teman-temannya, ayam, tahu, tempe, ikan asin, dan sambal. Bedanya, nasi timbel di tempat ini tidak dibakar, nasi putih biasa saja yang ditaburi serundeng.

Layaknya ayam goreng pada umumnya, ayam goreng di sini juga biasa saja. Dibilang enggak enak, enggak. Dibilang enak juga, enggak 100 persen enak. Cuma, si penjualnya itu menyajikannya ‘bersih’. Pun dengan tempe dan tahunya yang digoreng dadu.

Tapi, juara umum dari `Nasi Timbel Raos Dago` ini adalah sambalnya. Sebagai penikmat sambal, tak cukup rasanya bila disajikan hanya dalam porsi kecil. Sambalnya itu akan dibuat ketika ada yang pesan saja, jadinya fresh. Ada kali saya nambah lima kali, hanya untuk sambalnya saja.

Ayam, tahu, tempe, ikan asin goreng
Nasi putih ditaburi serundeng

 

Sambalnya

Sambalnya itu kelihatannya biasa saja, bahkan terlihat seperti tidak pedas. Begitu dicocol bersama ayam goreng dan teman-temannya dan dikunyah di mulut, taraaaaa.. pedasnya mulai terasa.

Karena sambal ini jugalah, sore itu saya makannya khilaf, padahal malam harinya akan liputan di Braga Culinary. Habis, sambalnya itu nafsuin. Lebih nafsuin sambalnya, ketimbang abangnya. #eh

Untuk harga, saya kurang tahu, enggak nanya juga. Lah, dibayarin Mas Rommy. Pantang menanyakan harga kalau dibayarin. #okesip

Terimakasih, Mas Rommy! Kalau liputan bareng lagi, bayarin lagi, ya! #dikirimindedemit

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

3 comments

  1. Tunggu review selanjutnya, ya 😉

  2. Siap coba deh Dit. Nyaamm…

Tinggalkan Balasan