Butuh Lawakan Yang Lebih FRESH!

Sule DKK (*sumber: GOOGLE)

Beberapa minggu yang lalu, saya menyaksikan acara lawak harian yang dilakoni oleh Sule, Parto dan kawan-kawan. Entah kenapa, episode kali itu terasa hambar dan kalau kata orang sekarang, garing. Beneran, rasa seperti itu bukan hanya saya saja yang merasakannya, tetapi beberapa orang pun mengakui hal yang sama. Itu semua dapat terbaca dari kicauan yang mereka post di dalam akun twitter mereka.

Entahlah, karena faktor bintang tamunya atau memang acara itu sudah mulai kehabisan bahan candaan. Kalau saya sendiri menilai pertama kali, itu semua disebabkan karena faktor bintang tamunya.  Ya, malam hari itu bintang tamunya adalah 7Icons. 7 cewek yang sedang laris-manis ini berusaha untuk mengimbangi kelucuan Sule dan kawan-kawan namun sayangnya GAGAL.

Saya fikir, okelah, tak masalah. Toh, mereka emang bukan pelawak. Sedikit orang yang pada dasarnya bukan pelawak tapi sukses ketika disuruh ngelawak. Ga taunya, hal serupa saya rasakan kembali. Kalau kali ini, tidak lain dan tidak bukan, karena faktor kebosanan saya. Kenapa harus saya? Kenapa tidak penonton? Karena, saya dan penonton lain belum tentu punya penilaian yang sama. Bisa saja saya bilang garing, tapi menurut yang lain enggak. Enggak fair dong! Saya merasa, kok candaannya dari hari kehari terkesan sama saja. Saya mengambil kesimpulan sementara, jika tidak ada styrofoam maka acara ini sudah terasa garing sejak lama.

Kalau ditanya ‘nah, lo sendiri mau lawakan seperti apa??’. Saya akan menjawab sesuatu yang fresh dan baru. Tidak itu-itu saja. Tidak meledek kekurangan orang lain, tidak mengumbar masalah pribadi, tidak menakut-nakuti orang lain dengan hewan dan tidak dengan ‘papa kamu pasti tukang gali kubur ya?|Kok tau?|Karena kamu sudah menggali hatiku!|. Memang, sih, cara seperti itu terkenal ampuh membuat orang ter-pingkal-pingkal. Tapi coba deh cari yang baru. Jangan nunggu 1 orang bikin “sesuatu” yang baru — baru deh yang lain mengekor. Aduh, maaf sebelumnya kalau saya terkesan mengajari atau apalah.

Kalau sudah seperti itu, jangan marah atau tersinggung apabila orang lain sudah mulai membanding-bandingkan acara sekarang dan acara jaman dulu. Sorry. Saya pribadi dan entah mungkin orang lain, merasa kangen sama candaan Dono, Kasino dan Indro yang tergabung dalam Warkop DKI. Menurut saya, candaan yang mereka lontarkan memberi kesan kalau mereka pelawak yang bukan hanya sekedar melawak tapi mereka pun memperlihatkan kepintaran mereka. Sampai pada akhirnya, saya coba mengubek-ubek ribuan video Warkop DKI di situs Youtube dan berharap menemukan 1 dari sekian banyak video yang membuat orang-orang yang menontonnya tertawak tak berhenti. Dari mulai Bagi-Bagi Dong, Saya Duluan Dong sampai Maju Kena Mundur Kena, saya buka dan saya tonton 1 per 1. Dan akhirnya, saya menemukan 1 video di channel milik @MrAdeniscute yang saya yakinin, apabila anda menontonnya akan membuat anda memutarnya berulang-ulang.

Saya menyaksikan video ini bersama ibu dan ayah saya. Ekspresi ke-dua-orang-tua saya ini sudah tidak usah ditanya, mereka terpingkal-pingkal ketika menyaksikannya. Lalu, ayah saya nyeletuk, apa ada acara lawak jaman sekarang yang bisa membuat orang terpingkal-pingkal tanpa ada “paksaan” di tahun sekarang ini? Saya bilang, ada! Saya teringat sama 1 acara yang membuat orang sakit perut juga ketika menyaksikannya. Sebenarnya, acara seperti ini, sudah ada di era (ALM) Taufik Savalas. Menurut sebagian orang, memang sih hampir sama, tapi kalau dilihat dan dibandingkan, pasti beda. Dan lucuannya, lucuan yang sekarang.

Nama acaranya adalah Stand-Up Comedy. Sebenarnya, acara serupa sudah lebih dulu sukses di negara lain. Untuk di Indonesia sendiri, STU (Stand-Up Comedy ,-red) ini diprakarsai kembali oleh @Pandji. Yang sebelumnya, konsep seperti ini pernah di pakai oleh (ALM) Taufik Savalas. Bedanya, kalau Taufik Savalas membawakan cerita yang sudah terkenal lebih dulu, sedangkan STU benar-benar materi baru dan berbeda. Apa itu STU? Bagi kalian yang belum tahu, STU adalah sebuah acara komedi yang si penceritanya dalam keadaan berdiri dan memegang mic dan tentunya diatas panggung. Kalau sudah seperti itu, baru deh, si penceritanya memulai sebuah cerita yang kalau dia berhasil membawakannya akan membuat orang tertawa. Apabila enggak, penontonnya cuma diam atau malah bersuara ‘wooooooooo..’. Hehehe 😀

Uniknya, acara ini ada yang namanya #StandUpNite. #StandUpNite diadakan di sebuah kafe yang ada di kawasan Jakarta. Biasanya, kalau tidak di Citos di kafe yang saya lupa namanya. Disitu nantinya akan diisi oleh @Pandji @radityadika dan beberapa orang lainnya. Materi mereka pun berbeda-beda. Lalu, ada juga yang namanya “OPEN MIC”. Mereka memberikan kesempatan orang lain untuk menguji nyali di atas panggung #StandUpNite. Mereka dibebaskan untuk ber-improvisasi demi menghasilkan sebuah cerita yang membuat orang tertawa dan tidak menyuruh mereka untuk turun panggung. Saya sendiri belum sempat menontonnya secara langsung. Next event, insyaallah saya akan menyaksikannya secara langsung. Dari semua video yang ada di channel @standupcomedyindo, Stand-Up-an milik Raditya Dika, lah, yang membuat saya terpingkal-pingkal.

Oia, follow @StandUpIndo untuk mengetahui jadwal #StandUpNite.

Mohon maaf apabila ada yang tidak mengenakkan dari postingan saya ini. Ini hanyalah pendapat saya sebagai penikmat. Mohon lebihnya saya minta maaf. Terus berkarya untuk menghasil karya yang lebih oke lagi.

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

3 comments

  1. Tooossss dulu. AKhirnya ada juga yang bilang OVJ ga lucu selain saya. Sampai sekarangpun saya masih bingung apa sih yang lucu di OVJ.

    Sepakat, Warkop blom ada tandingannya….

    Yuk ah ke pantai dulu sama Dona dan Siska

    1. Loh, mas nya juga sependapat? syukur deh, aku tak sendirian. Nyahaha *TOSH*

      Iya mas, memang mulai garing, habis bahan candaannya

  2. Thanks for the auspicious writeup. It in fact was a leisure account it. Glance complicated to more added agreeable from you! By the way, how can we be in contact?

Tinggalkan Balasan