Bicara Dalam Hati

“Makanya, kalau bicara itu hati-hati. Terkadang Tuhan lama mengabulkan doa yang kita panjatkan usai shalat, tapi cepat mengabulkan apa yang kita bicara dalam hati.”

Jadi, hari ini saya dibuat ketakutan oleh apa yang saya ucapkan dalam hati. Rata-rata diaminin-Nya. Makanya, waktu menceritakan ketakutan ini, si kawan langsung berpesan seperti itu.

Tadi pagi, usai sholat subuh saya mencoret pulau dan negara mana saja yang sudah disinggahi dalam setahun ini. Sebulan setelah umrah atau Senin hingga Rabu kemarin saya ditugasin meliput rapat kerja kesehatan nasional (Rakerkenas) 2015 di Makassar. Berarti Mekkah, Madinah, Qatar, dan Makassar dicoret. Lalu, dalam hati saya berujar `Seru kali kalau dikasih kesempatan ke pulau ini` lalu saya tidur lagi.

Pas sampai di kantor, tiba-tiba seorang teman yang sudah saya anggap kakak sendiri mengajak saya untuk ke pulau yang saya ucapkan di dalam hati itu. Saya langsung mengiyakan, ngurus cuti, baru terakhirnya berpikir `Ya ampun, secepat itu Tuhan mengamininya?`.

Sudahlah, setelah ngurus semua, saya cuma bisa senyum-senyum saja menerima apa yang Tuhan kasih. Ambil headset, buka Youtube, dengerin musik-musik instrument sambil ngetik berita, dan berusaha untuk tidak berpikir apa-apa.

Tiba-tiba hati kecil berkata `Ingat, pakaian kotor dari Makassar belum dicuci. Memangnya sempat nge-laundry?`, mengetahui itu saya langsung galau. Mau nge-BBM ibu minta tolong, rada nggak enak. Wong saya mau-ngelaundry karena nggak enak minta tolong sama ibu. Tapi, tapi, sejam kemudian si ibu nelepon, dong.

“Abang, pakaian kotornya diletakkin di mana? Yang di dalam plastik, bukan? | Iya, Ma | Yaudah, mama cuci, kalau besok nggak bakal sempat lagi. Baju kamu aja masih banyak yang di laundry dan belum diambil”.

Ya Tuhan, apalagi coba ini? Padahal, kan, saya berbicara sendiri dalam hati saja.

Nggak berhenti sampai di situ.

Kemarin itu mau makan berdua si kawan, tapi nggak jadi mulu karena dia sibuk *sigh*. Lalu, tadi usai makan siang dia nyamperin ke meja dan basa-basi seolah-olah lupa sama janjinya. Dalam hati saya cuma bisa bilang `Nggak peka banget, ngomong apa kek, ini malah nanya-nanya yang lainnya`. Dan, tepat jam 4 dia tiba-tiba mengirimkan pesan mengiyakan maunya saya. Jedder, padahal jam 5-nya harus ketemuan sama teman-teman jurnalis di FX. Ya, mau nggak mau jadi rada ngaret 😛

Nah, kejadian terakhir ini nih yang bikin saya parno luar biasa. Tadi pagi, pas bangun tidur, terlintas satu nama di kepala saya yang sepertinya sudah cukup lama kami berdua tidak berkomunikasi. Cuma, saya gengsi untuk nyapa duluan, dengan harapan dialah yang nyapa saya duluan.

BENERAN, DONG, ITU TERJADI MALAM HARINYA. Saat saya jalan kaki dari FX ke stasiun Palmerah, BB saya kedap-kedip menandakan ada pesan masuk. Pas saya buka, orang yang dimaksud itulah yang mengirimkan pesan singkat,”Dit, udah tidur?.”

Asli, parno banget. Parno-separno-parnonyalah. Tapi, tetap saja saya mengucapkan sesuatu lagi di dalam hati seperti `Hongkong, Belanda, Labuan Bajo dan Raja Ampat, serta Ya Allah, saya mau ke Tanah Suci lagi`. Siapa tahu hari ini memang jatahnya saya untuk dikabulkan apa yang menjadi maunya. Who knows?

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

6 comments

  1. Wah, triknya boleh dicoba nih. 😀

    1. Sebut nama aku dalam doamu, kak

  2. saya sudah sering berdoa dalam hati, mungkin kurang sungguh2 ya, hehe, dan masih kurang ibadah. 😀

    1. Hahaha… Saya pun demikian

  3. Aahhhh.. Aku mau keliling duniaaa *komatkamitdalamhati*

    1. Aku bantu aminin ya, Niee

Tinggalkan Balasan