Betapa Nikmatnya Hanimun di Bandung

Siapa bilang yang menyukai hanimun hanya orang yang sudah menikah saja? Saya yang masih lajang ini, suka juga tuh, sama yang namanya hanimun. Apalagi kalau sedang berada di Bandung, pasti menyempatkan diri untuk ber-hanimun. Paling sering sih, menikmati kehangatannya di KM-97.

Eh, iya, sebelum saya dibully karena bawa-bawa hanimun, di mana kenyataannya saya belum pas untuk merasakan kenikmatan hanimun sesungguhnya, maka harus digarisbawahi bahwa hanimun yang dimaksud ini adalah nama dari batagor terenak nomor dua yang ada di sana.

Awalnya, saya tidak pernah tahu kalau batagor yang menjadi langganan tiap kali memberhentikan mobil untuk rehat sejenak di KM-97 itu adalah Hanimun. Wong plangnya saja tidak ada (Eh, sebentar, beneran enggak ada plang namanya, kan?). Barulah setelah aktif di Tumblr dan kopdar di Monas beberapa tahun silam, saya mengetahui kalau batagor itu bernama Hanimun. Ha ha ha.. :p

Sedap

Karena hitungannya per buah bukan per porsi, maka ketika mencobanya untuk pertama kali, saya hanya memesan dua buah saja. Takut kalau banyak-banyak ternyata enggak enak dan kebuang, malah mubazir, yes?

`Kesan pertama begitu menggoda` pun saya rasakan ketika selesai menyantapnya. Ternyata rasanya itu enak banget, dan membuat saya ingin menambahnya lagi.

Bagaimana ya mendeskripsikannya. Pokoknya ya, batagornya itu tidak terlalu berminyak. Daging ikannya terasa sekali, menandakan kalau si pemilik tidak pelit. Kenyalnya pun pas. Bumbu kacangnya juga samalah. Cuma kurang pedas, kudu tambah saus yang mana menurut saya, tetap tidak pedas. (Maklum, lidah Sumatera). #disepak

Yang tidak biasa dari batagor Hanimun ini adalah siomay-nya yang berbentuk bulat seperti bakso, dan tidak dibungkus sama kulit pangsit. Jadi, rasa ikannya itu mendominasi. Kalau dibungkus kulit pangsit, suka enggak terasa si ikannya itu.

Beuh!

Satu yang pasti, tempat si penjualnya itu bersih. Penjualnya pun ramah. Tapi, karena banyaknya pembeli yang tak sabar untuk segera menyantapnya, suka kasihan juga melihatnya, kewalahan sendiri. Menurut saya lagi, momen-momen diserbu pembeli seperti inilah yang tak boleh dilewatkan. Berbagai ekspresi akan ditemukan. Terkadang lucu juga. #apeu

Harganya dijamin tidak bakal menguras kantong pembeli. Ya, anggaplah ada yang menyebutnya mahal, tapi sebanding dengan rasanya.

Oia, kenapa saya bilang terenak nomor dua? Karena saya masih terus mencari batagor-batagor enak di Bandung yang cocok disebut sebagai juaranya batagor se-Bandung. #okesip

Cobain, gih.

Batagor Hanimun

Warung Hanimun Jl. Ambon 14 (Vertex), Jl. Dipati Ukur 1, Rest Area KM 97 Cipularang.
T: @batagor_hanimun
W: http://www.batagorhanimun.com/

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

Nama

14 comments

  1. Kalo sama kingsley, kaka???

    1. Kingsley belum nyoba. Makanya, Hanimun ini aku sebut enak kedua. Karena belum nyoba semuanya (yang kategori enak-enak)

  2. wah boleh juga di Om, kalo2 berkunjung ke bandung ke tempatnya.. salam kenal

    1. salam kenal. Ayo, makan ini dan bawain aku ya 😀

  3. Kirain ngereview hotel, taunya batagooor. Duuuh jadi pengen kaaan.. Mana ujan-ujan giniiii. Aaaa

    1. hahahahaha.. Maaf! :p

  4. Jadi pengen batagooooor

    1. Yuk, kak. Beliin aku juga, ya

  5. oh cuma hanimun ini *cuekin *gak jadi komen

  6. Ini makanan, yang aku baru kenal saat main ke Jakarta dan ke Bandung, sepuluh tahun lalu. Tapi jarang makan juga…

    1. Sudah mencobanya? :O

  7. Eh ini yg di pasteur bukan sech ??? gw sering banget makan batagor di rest area setelah bayar tol pasteur kalo mau balik jakarta.
    Dan itu batagor nya enak banget + bumbu nya pedes mengelora

Tinggalkan Balasan