Berhenti Memberikan Receh Ke Mereka

Pengemis di Indonesia bukan hanya didominasi oleh kaum tua. Anak-anak, pun, sudah banyak yang menjadi pengemis.

Mungkin di kota kecil, jumlah pengemis nya sedikit. Tapi, tidak untuk di kota besar seperti Jakarta. Tiap hari pasti kita selalu bertemu sama mereka. Entah itu di lampu lalu lintas atau di dalam bis. Yang mereka kerjakan, pun, beraneka ragam.  Mulai dari ngamen yang lagunya terkadang nggak jelas, bersih-bersih kaca mobil setiap menunggu lampu hijau atau bahkan yang sekedar minta-minta tanpa melakukan apa-apa.

via: unggulcentre(dot)com

Kalau sudah bertemu dengan mereka, tidak sedikit dari kita memberikan mereka uang receh. Kalau jaman sekarang, paling banter ngasih receh gopek-an. Mau ngasih cepek, takut diprotes sama mereka. Tapi, tak jarang juga diantara kita yang tidak memberikan mereka sepersen, pun. Alasannya; karena ngga ada recehan (masa, sih, recehan gopek ngga ada??), pelit (barangkali, loh!) atau mungkin, kita ngga mau ngasih mereka uang karena kita takut mereka ke-enak-an dan ngga mau kerja.

Menurut artikel yang saya baca, alasan terakhir memang seharusnya dipergunakan. Salah satu alasannya karena itu, tapi, ada beberapa alasan yang harus kita ketahui.

Berikut ini pemaparannya yang saya dapatkan dari sahabatanak :

1. Kita membuang Rp 1,5 milyar receh setiap hari

Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang uang receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan. Mari kita berhitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA-2007) mencapai angka 75.000. Pendapatan mereka seharinya bisa mencapai Rp 20.000 – Rp 30.000. Bila kita ambil Rp 20.000 dikalikan 75.000 anak, berarti kita membuang uang receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.500.000.000 alias 1,5 milyar per hari!

2. Kita membuat mereka betah di jalan

Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironik yang besar. Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan. Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau menyodorkan amplop sumbangan – satu anak jalanan usia SD bisa memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh hasilnya hampir sama.

3. Jajan, main dingdong dan setoran

Tanpa maksud menggurui, Sahabat Anak menyarankan kepada kita semua untuk mendukung program Stop Beri UANG, yakni berhenti memberi uang kepada anak-anak jalanan. Dari sekian penelitian yang dilakukan sejumlah LSM, uang yang diperoleh anak-anak marjinal ini, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan mereka. Jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; terakhir, setoran ke orang tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Jadi, bocah-bocah berpenampilan kumuh ini pun tetap miskin, tetap terancam putus sekolah, dan tetap berkeliaran di jalan.

4. Siapkan biskuit, permen, susu kotak

Setelah memahami penjelasan di atas, keputusan dikembalikan kepada Anda semua. Mari, menjadi sahabat anak yang tidak memanjakan, tapi melakukan tindakan serta bantuan yang langsung bisa mereka nikmati. Sebagai pengganti uang receh, berikan mereka nutrisi bergizi atau barang layak pakai. Mulai sekarang, sediakan dalam tas atau mobil Anda: biskuit, permen, buah, susu kotak/botol, atau barang-barang bermanfaat lainnya – yang langsung bisa diberikan saat tangan-tangan kecil itu menengadah di dekat Anda.

Gila, ya–ternyata, kalau dikumpulkan uang-uang receh yang kita kasih ke mereka bisa sampai “M”-an gitu. Edan. Membuat mereka betah jalan, memang benar adanya. Kasihan mereka, ke-enak-an jadinya. Di usia-usia mereka, belum pantas untuk hidup keras seperti itu. Dan lebih gila nya lagi, terkadang uang yang mereka dapat, tidak 100% menjadi milik mereka. Mereka harus menyetorkannya lagi ke penyalur mereka. Ke-enak-an yang nyalurin jadinya. Habis itu, sisa uangnya bukannya ditabung malah dibikin main dingdong yang jatuhnya malah judi. Kejadian seperti itu, dulu sering banget saya temukan di pasar mayestik Jakarta Selatan.

Option terakhir memang sedikit menguras kantong, sih (kalau difikir-fikir). Tapi, itu lebih menyehatkan. Kalau masih keberatan juga, coba deh, ajak mereka untuk kerja dirumah seharian dengan imbalan uang. Mereka bukannya menerima, malah menolak.

Karena pernah kejadian. Januari dulu di stasiun Depok, orang tua saya disamperin oleh 1 anak kecil yang meminta-minta. Mereka, sih, ngakunya belum makan dan merasa lapar. Kebetulan, orang tua teman saya ini lagi butuh orang untuk bersihkan kebunnya. Beliau menawarkan ke anak kecil ini kerja membersihkan sampah dirumahnya. Hanya membersihkan sampah, karena yang potong rumput sudah dikerjakan sama suruhannya. Imbalannya? Lumayan, lah. 50ribu rupiah plus makan. Apa yang terjadi? Si anak menolak mentah-mentah dan berlalu sambil mengucapkan ..

“Kalau gue kerja, sama aja boong. Gue, kan, ga mau kerja.. Maunya duit!”

Hehe, aneh !

 

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

51 comments

  1. Di sebuah simpang empat bandung aku pernah liat. Si anak2 berkeliaran minta duit. Ibu2-nya duduk di pinggir jalan sambil ngobrol, gelar tikar, ada makanan (udh cem tamasya aja). Memang mending jangan di ajarkan untuk menjadi peminta-minta.

  2. Banyak juga ya kalau dijumlah, 1,5 Milyar (tapi berupa uang recehan) uang segitu banyak kira-kira bisa buat beli apa ya??? Beli mobil + rumah bisa nggak ya? (sambil berharap). :D, lebih baik berikan ilmu yang berguna bagi mereka.

  3. Dilema juga sih, di satu sisi kasihan dan di sisi lain kok ga mendidik banget..

  4. pas dijakarta, aq makan di warteg dbelakang kantor, eh ada ibuk2 dengan wajah melas minta, maksa lagi, tiap hari wajahnya terus yg ada, q selalu bilang “maaf buk ga bs”, dia bilang “untuk makan” ya udah tak beliin makanan deh, eh dia maunya duit. sebenarnya ada alasan yg membuat q begitu keberatan ngasih, q ngelihat ditangannya ada emas segede bagong,,, ya ampun…

    udah baca artikel ini ga.. bagus. Pengemis harus belajar dari Bapak ini.
    http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/

    1. malesin abis kalau kayak gitu.
      Emas segaban masih ngemis?? Gilaaa!
      Aku buka, ya

  5. Solutif sekali.. 🙂 Meskipun ada larangan memberi mereka uang, tapi juga ada solusi. Saya suka.

  6. jadi solusinya gmna aga mereka g betah di jalanan?

  7. sangat sepakat dengan seruan ini. dengan memberikan receh, mereka akan langgeng, bahkan akan semakin bertambah, dan itu tidak membuat mereka kaya, tapi bos-nya yang semakin menjadi-jadi dalam mengeksploitasi anak..

    1. Benar sekali, dok.
      Kasihan anak-anaknya, bikin enak bosnya.

  8. wah-wah malah jadi kebiasaan gitu ya…
    apa gak mending diamanin Satpol PP (tanpa kekerasan tentunya) dan setelah itu mereka diberi pengarahan, pelatihan, dkk ya..?

    1. Udah ga mempan, sepertinya.
      Ditahan paling cuma 1 hari, habis itu mereka keluar lagi.
      Pas keluar, ngemis lagi..

  9. analisisnya mantab juga, mas adi. tapi seringkali saya tak tahan godaan utk ngasih mereka ketika menatap wajah mereka yang memelas dan mengundang iba, ndak sampai berpikir sejauh itu.

    1. Terimakasih, Pak Sawali.
      Memang awalnya tega ga tega, lama kelamaan juga terbiasa, pak.
      Kasihan mereka, belum saatnya mereka merasakan seperti itu. Anak seumuran mereka, cocoknya berada di sekolah. Belajar dan bermain.

  10. Saya memang gak ngasih uang receh ke pengamen…
    Tapi saya tetap memberi uang receh pada mereka pengemis yang cacat. 🙁
    Saya nggak tega. 🙁
    Jangan salahkan saya atas sifat gak tegaan saya. Di Bandung sini saya belum pernah nemu pengemis cacat yang pura-pura. Jadi, setiap kali saya berkendara naik motor dan di lampu stopan ada pengemis cacat, jika ada uang receh di kantong jaket kemungkinan besar saya beri.

    Lain hal dengan pengemis yang gak cacat, gak saya beri. 😡

    1. Beda sama cacat, mas … Terkadang, saya sendiri, pun, hiba melihat pengemis cacat.

  11. Saya pernah tanya pengamen, berapa penghasilannya sehari. Dia jawab, kalau lagi sepi ya paling 75, kalau lagi rame ya 150 sampe 200.

    Saya jawab: “Wah, berlipat2 dari gaji saya!”

    Dan asumsi 20-30 ribu untuk mengalikan jumlah uang yang beredar di jalanan itu, saya pikir masih kurang.

    Terkejut juga kalo hasilnya sampai miliaran gitu, padahal angka kaliannya hanya 20-30 ribu. Bayangkan kalo 100!

    1. Memang, mbak … 75ribu itu 2 hari saya mengawas ujian. Hhee 😉
      Uang segitu, tidak 100% milik mereka. Belum lagi mereka nyetor ke penyalurnya.
      Belum lagi, dibuat untuk judi. Kasihan lihatnya, mbak.

  12. dlu kata guruku gini, “mendingan kasi sama yg uda lansia, jgn kasi ke org cacat sma anak2. bukannya diskriminasi, tapi saya pernah pengalaman liat pengemis yg kakinya borok gtu lg bersihin kakinya n lgsg kinclong lg (kyknya pake kapas+betadin byk2). kcuali yg emang bener2 mpe pake kruk, kakinya buntung gtu oke deh kasi”

    saya tmbh trauma sama pengemis sejak di kompleks rumah saya tiap 3 hari sekali didatangi pengemis sebanyak 8 orang. bukan per orang per menit/jam, tapi LANGSUNG 8 orang ntu dateng ke rumah. pas dikasi 5rb, eh msi protes kurang n ada yg minta maem dsb. uda aku blg aja cm segini, n lgsg tutup pintu 😡

    1. Iya, kalau mau lebih afdol lagi, kasih aja ke anak yatim sekitar rumah yang kurang mampu.
      Lansia nyya pun lihat2 dulu.

      Serius seperti itu? Parah juga kalau sampe nyamperin ke rumah gitu

  13. Ironis memang , tapi kita memang harus gallakan stop berikan urang receh kepada pengemis, Karena tidak ada nilai manfaatnya dan mereka bakalan selamanya mengemis. Menurut saya mending sumbangkan ke sekolah terbuka yang khusus memelihara anak anak jalanan , atau kalau niat menyumbang ( sedekah ) bisa langsung ke masjid atau ke panti asuhan yang notabene benar benar membutuhkan.

    1. setuju sekali, baju bali.
      Iya, bagus banget tuh ke sekolah terbuka. Kalau mau lebih bagus lagi, ke anak yatim yang ada disekitar kita aja 🙂

  14. terus terang aku nggak suka ngasih receh ke pengemis apalagi anak anak atau yg msh muda, alasannya simpel, membuat mereka jadi tambah malas, msh byk pekerjaan lain kalau mereka mau, tahu nggak ada pengemis di kampungku dulu, yg ternyata di kampungnya itu dia punya rumah yg megah, kalau ngemis pura pura jadi kakek bungkuk, pernah kepergok, jalanya msh tegak

    setuju sama komentarnya baju bali di atas

    1. wah, alhamdulillah.. Lebih baik jangan dikasih, mbak. bener banget itu, bikin mereka males. Mereka itu seharusnya sekolah. Belum saatnya mereka kerja seperti itu.

  15. Aku jg ga pernah ngasih. Aku mending ngasih ke org2 yg jualan di pinggir jalan or kakek2 renta pemungut sampah di TPS….

    Mereka BERJUANG ga sekedar mengadahkan tangan

    Btw, salam kenal yah. Saya br buat blogger. jd lagi ngiter2 cr temen nih ^^

    1. Wah, setuju sekali. Saya lebih menghargai orang seperti itu.
      Salam kenal ya, Tanti 🙂

      1. panggil Shirei or Bayu aja. ga noleh dipanggil tanti. lol ^^

  16. Setujuu..
    mending bawa makanan ataupun minuman buat mereka. Dulu pernah kasi uang, eh adik kecilnya dipalakin sama yang lebih tua.. 🙁

    Dulu pernah ketemu adik jalanan yang keren, mintanya buku kelas 4 SD. Semangat deh aku besoknya bawain buku2nya adikku. Dan ternyata benar dibuat sekolah, bukan untuk dijual kembali..
    *sempet negative thinking*
    hehhe

    1. wah, kalau anak seperti itu, wajib dibantu. Dia masih punya angan2 berarti

  17. Sepakat 😀
    Kalau di sby teman2 remaja di surabaya banyak bergerak. ada penggalangan buku buat anjal dan pengadaan perpustakaan mini.

  18. buat cerita lengkap dan liputannya belum ada di blog..
    belum kelar pelaksanaannya. 😀

    stay tune di sschildsurabaya.wordpress.com ajo 😉

  19. Waah… Dapet ide nih ganti bawa receh dengan bawa susu

  20. kenapa jumlah “mereka” terus bertambah ya?

    1. Karena kita secara tidak langsung memanjakan mereka .. Sekali2 tegaan, pasti mereka berkurang..

  21. kasih biskuit lebih sipp deh…hehee… Mmm bener bngt, hasil’a mereka tdak mempergunakannya dg baik, malah dipake hal” yg g terlalu pnting.. Tp beda” sih orng’a,

    1. memang, sih.. Ga semua pengemis seperti itu. Tapi, rata2 justru dipergunakan untuk hal2 yang tidak penting

  22. sebaiknya mereka semua harus diberikan pelatihan agar bisa mendapatkan penghasilan tanpa meminta-minta atau mengemis dijalanan.

    1. setuju banget, mas. Tapi, sepertinya mereka nya yang ogah-ogahan

  23. aneh…
    kalau masih kecil udah di ajari minta-minta apa kata dunia
    lebih baik gak usah di kasih
    setuju aku

  24. Bbrp kali sih saya kasih biskuit ke anak kecil yg berprofesi jd pengemis di lampu merah matraman, knapa sy bilang profesi? krn si anak perempuan ini tiap hari nyamperin pengguna jalan yg pas kena lampu merah, klo gak dikasih agak2 merengek gak mau pergi sampai diusir, pdhl si anak ini msh kecil dan tdk memperhatikan keselamatannya ngemis ditengah jalan raya yg super padat, sdh gitu ibunya mengamati dr jauh *tepokjidat deh! :-)))

    1. Itu lah Indonesia, mbak.
      Mereka sudah terlalu lama berada di zona nyaman .. Jadinya ke enakaan. Matraman itu pengamennya rada nyebelin.

  25. Wahhh bener banget ini, kita musti bijak juga memberi mereka sesuatu.
    makasih artikelnya Adit 🙂

Tinggalkan Balasan