Beres-beres Kamar Tidak Boleh Dipaksakan

Mama geleng-geleng kepala melihat kamar saya yang persis kapal pecah. Sudah lama mama menyuruh untuk beres-beres kamar, tapi saya malah cuek dan membiarkan kamar berantakan. Tas di mana-mana, topi berada tidak di tempat semestinya, dan sulit mencari baju atau celana yang belum pernah dipakai karena asal saja menaruh pakaian yang habis disetrika.

Saya punya keyakinan bahwa merapikan kamar harus dilakukan atas dasar kemauan sendiri bukan paksaan dari pihak mana pun. Mood sedang tidak asyik, beres-beres kamar akan menjadi kegiatan yang sia-sia. Pernah satu waktu malah saya tinggal tidur.

Kebetulan Sabtu ini saya tidak piket sehingga punya banyak waktu di rumah. Mengingat empat hari lagi lebaran, dari kemarin sudah saya niatkan untuk beres-beres kamar hari ini. Kalau biasanya habis subuh saya lanjut tidur lagi, tadi langsung masuk kamar, dan benar kata mama, sulit membedakan mana kamar, mana gudang, dan mana kapal yang sudah tak layak berlayar.

Kamar berantakan hanya bikin kepala pusing. Bingung mau memulai dari mana beres-beres kamar pagi tadi

Lebaran tahun ini giliran rumah mama yang jadi pusat berkumpul semua keluarga. Sekalian arisan keluarga mama. Dengan begitu akan banyak saudara yang menginap di rumah. Kalau kamar tidak segera dibereskan yang ada mama semakin meradang.

Kapan waktu yang tepat buat beres-beres kamar?

Pagi hari cocok digunakan untuk beres-beres kamar. Sekalian olahraga. Konon, beres-beres kamar selama 30 menit dapat membakar 300 kalori. Dan mood di pagi hari sedang baik-baiknya.

Sebisa mungkin lawan rasa kantuk yang biasa terjadi di bulan ramadan. Kalau diulur-ulur, apalagi pakai tidur segala, biasanya niat merapikan kamar akan hilang. Pasti akan malas dan memilih tidur lagi. Beresin kamarnya kapan? Besok! Syukur kalau tidak lupa sama niatnya.

Cukup rapi setelah beberes kamar. Sudut favorit di kamar

Waktu yang saya habiskan untuk membersihkan dan merapikan kamar yang berada di lantai dua sekitar tiga jam-an. Itu juga diselingin dengan balasin pesan yang masuk di WhatsApp, cek Path, Twitter dan Facebook, dan buka Youtube.

Pekerjaan selesai, saya bisa lanjut tidur lagi sampai Dzuhur. Ya, meski nggak senyenyak kalau tidur habis Subuh πŸ˜†

Beres-beres kamar mulai dari mana?

Kamar tidur saya berisi satu ranjang untuk satu orang (bisa buat dua orang kalau kepepet), satuΒ  lemari yang terdiri dari dua bagian, pohon topi, televisi, pengeras suara, dan rak berisi buku dan Al-Quran.

Pohon topiku

Dari semua itu sudah jelas lemari pakaian yang paling berantakan. Saya pilih merapikan pakaian di lemari terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama, kok. Setelah menyortir mana baju kerja, baju dalaman, baju tidur, dan baju Sholat, masukin lagi saja di lemari. Ditaruh berdasarkan tingkatannya. Begitu juga dengan celana, termasuk sempak, singlet, dan kaos kaki.

Menyortir dan memisahkan pakaian kerja, baju dalaman, baju tidur, dan baju sholat saat merapikan lemari. Mulailah beres-beres kamar dari sini

Baru setelah itu mengelap rak beserta perintilan yang ada di atasnya. Berdebu, kayak blog yang nggak pernah di-update. Untungnya nggak ada sarang laba-laba.

Nah, yang terakhir merapikan tempat tidur. Saya mau suasana baru, geser-geser tempat tidur, akhirnya dapat posisi yang pas, menghadap ke teve. Seprai, bantal dan guling beserta sarungnya diganti yang baru sama mama.

Beneran nggak rela kalau sampai kotor dan kamarnya berantakan lagi

Beres semuanya, baru deh lantai kamar disapu dan dipel. Giliran sudah rapi begini malah sayang untuk ditiduri. Rada nggak ikhlas kalau diberantakin lagi.

Lengkapi peralatan tempur

Satu kebiasaan yang selalu saya lakukan ketika beresin kamar adalah menyiapkan semua alat tempurnya. Sapu, kain pel, pewangi lantai, dan perintilan lainnya harus berada tak jauh dari genggaman tangan. Paling malas pas mau ngepel, ternyata kain pel ada di lantai bawah. Memang hitung-hitung olahraga tapi kalau bisa dipersiapkan dari awal, kenapa nggak? Kan lagi puasa!

Buang-buang yang nggak penting

Menurut saya, hal tersulit dari seluruh rangkaian kegiatan beres-beres kamar ini membuang sesuatu yang nggak penting. Begini, sesuatu yang orang lain anggap tidak penting, bisa jadi sangat penting buat kita. Sekarang memang nggak penting, ke depan siapa yang tahu? Bisa saja buku yang kita anggap sudah layak untuk dibuang satu hari nanti sangat diperlukan.

Baju juga begitu. Butuh waktu untuk memastikan beberapa baju sudah layak untuk dibuang atau diberikan orang-orang yang membutuhkan. Baju ukuran XXXL saya tempo hari ternyata berguna untuk pedagang nasi goreng di komplek rumah depan. Dijadikan clemek sama dia. πŸ˜†

Menemukan harta karun saat beres-beres kamar

Selalu saja menemukan β€œharta karun” setiap kali saya membersihkan kamar. Saya ini orangnya teledor banget. Menaruh barang sembarangan. Cenderung nggak ingat sama barang yang dimiliki. Pas lagi beres-beres kamar, ketemu aja gitu sama barang-barang yang saya sendiri lupa pernah punya, pernah beli, atau pernah dapat itu barang dari mana.

Ini beberapa barang yang saya temukan dari kegiatan beres-beres kamar pagi tadi.Β  Dua powerbank dan voucher Carefour dari acara blogger, serta jam tangan yang saya beli di Garuda. Saya saja lupa alasan membeli jam tangan tersebut.

Kamar saya sudah rapi sekarang. Kemungkinan tidak akan saya tempati sampai malam takbiran. Sudah seminggu ini saya tidur di kamar tamu di lantai bawah. Gara-garanya saya parno sendiri habis mengunggah segala sesuatu tentang Valak di Path, nggak bisa tidur, dan mengungsi ke kamar bawah yang bersebelahan dengan kamar orangtua. πŸ˜†

Kalian sendiri punya cerita menarik saat beres-beres kamar nggak? Ceritain, dong!

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

9 comments

  1. berantakan karena banyak baju ya..aku pun malas keluarin baju dari koper yg dari pergi…btw, itu kamarnya enak ada jendelanya luas menangkap udara..

    1. Nah, itu juga aku paling males. Males banget merapikan baju yang belum terpakai selama bepergian. Kecuali yang kotor πŸ˜†

      Iya, jendela di rumah sengaja dibikin lebar, biar anak-anaknya pada bangun.

  2. Wahhh kamarnya kak Adiitt …

    Iya sih kadang kl beres2, suka nemu uang, kertas, surat cinta (#eh), tp kok aku blm pernah nemu power bank ya? πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    1. (((surat cinta))) tahun kapan, Timo?

  3. Waaah. Jadi iri sama semangat nya. Ntar mau beres2 kamar juga ah…

    Merasa tersindir (tercolek) dengan kata2 “bersentuhan kayak blog yang udah lama gak update” πŸ˜€

    1. Hahahaha… Kak Cici memangnya sudaah berapa lama nggak update blog? Kecoa di mana-mana itu

  4. Kamar kalau rapi pasti bikin lebih nyaman πŸ™‚

Tinggalkan Balasan