Denmark, Jalan-jalan Denmark, Visa Denmark, Kopenghagen Denmark

Assalamualaikum Denmark, Boleh ya Saya Masuk

Dua undangan ke luar negeri datang ke saya di waktu yang berdekatan di awal April 2019. Yang pertama berupa ajakan ke Turki dari merek ponsel yang saya pergunakan sehari-hari. Namun, undangan itu mesti dilempar ke kanal lain, karena di pertengahan Agustus 2018 saya sudah ke New York dengan merek yang sama.

“Oh, mungkin belum rezeki,” hati saya berkata demikian. Keinginan merasakan sejuknya negara tersebut sambil goler-goler cantik di hamparan salju di Gunung Uludag, Bursa, Turki pun pupus. Padahal, sudah muncul di kepala saya hal-hal seru yang bakal saya lakukan menggunakan kamera Galaxy S10 plus untuk bahan tulisan.

New York, Samsung
Suasana malam hari di New York di pertengahan bulan Agustus 2018. Belum saya tulis cerita saya selama di New York. Nanti ya

Selang beberapa hari, seorang kawan dari salah satu agensi tiba-tiba menelepon saya. Hanya saja dari obrolan singkat ini saya masih belum tahu kalau bakal ke luar negeri.

“Mas Adit, lagi di mana?,” kata kawan saya ini dari ujung telepon. Saat itu posisi saya lagi makan siang di kantin sebuah bank yang letaknya tak jauh dari kantor saya.

“Aku mau kirim undangan diskusi. Semoga bisa, ya,” katanya lagi.

Tidak lama setelah mengakhiri obrolan tersebut, masuk sepucuk surat elektonik (surel) dari dia yang langsung bikin mata melek kayak habis dicekokin kafein segalon.

“Undangan Discussion Media Trip ke Denmark” begitu yang tertulis di bagian subjek. D E N M A R K, coi, D E N M A R K !!!

Sejujurnya sempat mau marah lantaran kawan saya itu menulis panggilan buat saya dengan sebutan mbak. Mau drama ala-ala sok-sok pundung ke dia gitu, tapi saya batalkan karena akan buang-buang waktu. Mending langsung menghubungi mas bos untuk memberitahu perihal undangan itu. Wk!

Dengan sedikit menye-menye, manja-manja, yang saya yakin mas bos pasti eneg mendengarnya dan pengin muntah, beliau pun akhirnya mengatakan,“Ya, boleh.”. Respons dari beliau sebenarnya tidak sesingkat itu. Panjang. Yang intinya, saya harus bisa menggarap banyak tulisan untuk kanal lain dari perjalanan selama sembilan hari tersebut.

“Jangan lupa, video juga,” kata beliau. “Siap! Itu doang? Mau berapa pun videonya, Adit selalu siap,” jawab saya sok iye.

Mengurus Visa Denmark

Dua hari kemudian, saya diminta untuk menyerahkan sejumlah berkas sebagai syarat mengurus Visa Schengen, seperti;

  1. Fotokopi passport.
  2. Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
  3. Pas foto ukuran 3 x 4
  4. Surat keterangan dari kantor.
  5. Surat keterangan dari atasan untuk menjamin bahwa saya ke Denmark untuk bekerja bukan untuk liburan.
  6. Rekening koran pribadi dan kantor.

Catatan : Karena ini perjalanan dinas, yang mengurus semua kebutuhan adalah pihak pengundang. Saya sendiri belum pernah mengurus visa Eropa, jadi tidak tahu bagaimana prosedurnya. Mungkin situs ini bisa jadi rujukan bagi kalian yang ingin mengurus visa Denmark atau negara lainnya, selain London.

Setelah menyerahkan semua berkas, saya tinggal menunggu panggilan buat interview visa Denmark. Tidak sampai 3 x 24 jam, kawan saya memberitahu bahwa saya dapat jadwal interview pada Senin, 8 April 2019 sekitar pukul 11.00 siang.

Bisa dikatakan semuanya serba mepet. Menurut rencana, jadwal keberangkatan seluruh rombongan ke Denmark di hari Sabtu, 13 April 2019. Sedangkan saya dan yang lainnya tidak tahu kapan pastinya visa tersebut akan keluar. Saya cuma bisa berdoa dan pasrah, semoga yang kali ini adalah rezeki saya.

Jumat petang, 12 April 2019, ponsel saya berbunyi. Muncul ajakan untuk bergabung ke grup WhatsApp dengan nama Arla Fam Trip.

“Teman-teman, visa kita sudah keluar. Besok kita jadi ke Denmark,” tulis Fani, kawan saya dari pihak pengundang. Alhamdulillah!

Saya senang bukan main. Akhirnya, saya bakal mengunjungi negara yang disebut banyak orang sebagai negara paling bahagia di dunia. Akan tetapi di saat yang bersamaan pusing pun mendera, lantaran memikirkan pakaian yang harus saya bawa.

“Fan, aku enggak ada baju hangat. Aku pinjam, dong,” kata saya setelah diberitahu bahwa Denmark tengah siap-siap memasuki musim dingin. Saya belum sempat beli-beli. Yang saya punya cuma jaket biasa. Walaupun meminjam punya Fani, saya tetap membawa empat jaket buat jaga-jaga.

Semula yang niatnya cuma mau bawa koper kecil, jadinya bawa satu koper besar dan satu ransel buat naik gunung. Aquarius ribet!

Assalamualaikum, Denmark!

“No, sir, no! Ini tidak keren sama sekali. Berhenti untuk merekam,” teriak salah seorang petugas bandara Copenhagen Airport (CPH) kepada saya.

“Hai, nona, saya mengeluarkan ponsel untuk menghubungi orangtua saya, bukan untuk merekam itu,” jawab saya. “Kalau Anda tidak percaya, silakan lihat sendiri,” kata saya lagi dengan nada sedikit tinggi.

Wanita kulit hitam dengan postur agak tinggi itu mungkin berpikir kalau saya mau merekam petugas medis bandara yang tengah menolong salah seorang penumpang yang mendadak jatuh dan pingsan. Yang kebetulan lokasi kejadian tersebut hanya beberapa langkah dari titik saya berdiri menunggu rombongan lain yang tengah menukar uang.

Saat peristiwa itu, suasana di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) memang seperti tidak terjadi apa-apa. Sebuah pemandangan yang jarang sekali saya lihat di Indonesia, terlebih khusus di Jakarta.

Orang-orang di sana tidak kayak masyarakat Indonesia pada umumnya, yang dengan santainya akan melihat dari dekat bila menemukan kejadian yang sama. Justru yang mereka lakukan adalah langsung menjauh agar korban mendapat udara yang lebih banyak, sekaligus memudahkan petugas medis untuk memeriksanya. Setelah petugas datang, mereka membubarkan diri karena tak lama lagi akan dipasang semacam pagar seng agar tidak ada orang yang melihat.

Teriakan tersebut sejujurnya agak membuat saya kaget. Saya bahkan tidak kepikiran sama sekali untuk melakukan hal yang dituduhkan kepada saya, karena kenyataannya saya sedang berusaha menghubungi orang rumah menggunakan nomor yang baru saya beli di bandara.

Dinginnya kota Denmark yang pada malam hari itu suhunya mencapai dua derajat celcius berhasil menghilangkan mimpi buruk yang baru saja terjadi. Setibanya di kamar hotel, saya langsung mandi dengan harapan bisa tidur pulas.

Namun, saya baru menyadari bahwa selama sembilan jam berada di pesawat dari Jakarta ke Doha dan enam jam dari Doha ke Kopenhagen yang saya lakukan hanya tidur, tidur, tidur, nonton, tidur, tidur, makan. Alhasil, saya tidak bisa memejamkan mata sampai pagi dan saya menjadi orang pertama yang sudah mandi, sarapan, dan siap untuk jalan-jalan mengelilingi kota yang cantik itu.

Kopenhagen Denmark

Ikonik dari Copenhagen adalah patung putri duyung yang berada di kawasan Langelinie. Pagi itu, saya dan teman-teman jurnalis berencana mau ke sana. Sayangnya gagal, karena jaraknya yang lumayan jauh dan kami masih buta arah sekalipun sudah mengaktifkan Waze.

Daripada kesasar sampai ke Jerman, saya dan Fani memilih main ke taman untuk sekadar jalan kaki sambil menghirup udara segar. Sekalian pemanasan karena rencananya bakal jalan kaki lumayan jauh, sebelum sore harinya bergerak ke Aarhus.

Denmark, Kuliner Denmark, Kopenghagen, Jalan-jalan Denmark
Di saat rombongan yang lebih berusia jalan-jalan ditemani Rina untuk cari tempat oleh-oleh, kami malah keluar dari rombongan dan cari jajanan khas Denmark. Seketika senang dong menemukan jajanan begini
Denmark, Kuliner Denmark, Kopenghagen, Jalan-jalan Denmark
Jalan kaki di Denmark memang amat menyenangkan. Saking capai dan lelahnya, beli jajanan engga mau satu untuk berdua. Masing-masing harus punya.
Denmark, Kuliner Denmark, Kopenghagen, Jalan-jalan Denmark
Jalan kaki di Denmark memang amat menyenangkan. Saking capai dan lelahnya, beli jajanan engga mau satu untuk berdua. Masing-masing harus punya.

Rinatani, orang Indonesia yang tengah berkuliah di Denmark menjadi pemandu wisata kami. Rina adalah mahasiswi Croos-cultural and Regional Studies, Faculty of Humanities, University of Kopenghagen.

Melihat mayoritas dari rombongan Arla Fam Trip adalah orang tua, Rina membawa kami ke sejumlah tempat yang tidak begitu jauh. Dari kawasan tempat untuk berbelanja oleh-oleh, tempat wisata, dan tempat makan yang dijamin cocok sama lidah orang Indonesia.

Tempat Wisata di Kopenhagen Denmark

Salah satu tempat wisata yang sebenarnya ingin kami kunjungi adalah Chrstianborg. Gedung Parlemen Denmark yang juga kantor Perdana Menteri dan Mahkamah Agung yang beberapa bagiannya dibuka untuk umum.

Nah, untuk bisa masuk ke dalam, pengunjung harus antre dulu. Siang hari itu, saya dan rombongan sudah mengantre lebih dari 30 menit. Selama setengah jam menunggu giliran untuk masuk, pasangan di depan saya sudah tiga kali berciuman. Dari ciumannya yang biasa, sampai ciuman yang durasinya sama kayak Instagram story.

Nahas, kami gagal masuk. Kami sepakat untuk balik kanan karena tidak memungkinkan untuk masuk ke Chrstianborg dan naik ke lantai paling atasnya.

Denmark, Kopenghagen, Jalan-Jalan Denmark
Menurut Rina, antrean sepanjang ini untuk masuk ke Chrstianborg tergolong sepi. Gilingan. Kayak begini saja bisa 30 menit lebih, apa kabar yang hari biasa? Orang Denmark pun cinta gratisan!

Menurut Rina, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Sesepi-sepinya itu seperti yang terjadi pada siang hari itu. Penyebabnya tidak lain karena untuk masuk ke sana tidak perlu keluar duit alias gratis.

Di lantai satu Chrstianborg, ada restoran cita rasa makananya sungguh memanjakan lidah. Dan, harganya termasuk ‘murah’. Biasanya orang akan ke restoran itu setelah capai foto-foto di lantai paling atas. Nah, di lantai paling atas itu pengunjung akan melihat Kopenghagen secara menyeluruh dari berbagai sudut.

Denmark, Kopenghagen, Jalan-Jalan Denmark
Seperti ini wujud Istana yang menjadi tempat wisata di Denmark. Bangunan tua yang berada di pusat tengah (definisi tengah sesungguhnya) kota Kopenghagen, Denmark.

Chrstianborg ini posisinya berada di tengah pusat kota. Tengah yang benar-benar tengah sehingga mata bisa menjangkau seluruh kawasan. Tidak seperti Istana lainnya yang menjadi tempat wisata juga. Sudahlah tidak gratis (dipungut biaya sebesar Rp50 ribu), tidak pula dapat melihat hamparan kota Kopenghagen dari banyak sudut kayak di Chrstianborg.

Sebagai gantinya, Rina membawa kami ke area Nyhavn atau Pelabuhan Baru di Kopenghagen. Itu, lho, sebuah kawasan yang dipenuhi dengan bangunan seperti rumah dengan cat warna-warna kayak di Malang. Nah, itu!

Di situ kami akan naik kawal berkapasitas lebih dari 100 orang untuk keliling Kopenghagen.

Patung Putri Duyung yang di Luar Ekspektasi

Saat naik kapal itulah saya jadi bersyukur tidak melakukan hal gila jalan kaki ke tempat patung putri duyung berada. Kalau itu benar-benar terjadi, bukan kebahagian yang saya dapat melainkan hanya lelah semata.

Kapal itu menelusuri setiap kawasan yang ada di Kopenghagen, termasuk juga Langelinie. “Itu tuh patung putri duyung yang terkenal itu,” kata Rina. Kami yang sedari kapal meninggalkan pelabuhan asyik foto-foto, langsung melihat ke arah yang ditunjuk Rina.

Denmark, Kopenghagen, Jalan-Jalan Denmark
Aku bersyukur tidak menjadi orang ambisius hari itu. Apa jadinya sudah jalan kaki jauh demi melihat patung putri duyung yang menjadi ikonik Kopenghagen, Denmark, yang ternyata ukurannya enggak beda jauh sama Malin Kundang

Syok. Kaget bukan main. Ternyata, patung tersebut jauh dari ekspektasi saya. Yang ada di bayangan saya patungnya itu berukuran besar, ternyata beda tipis sama Malin Kundang. Pengunjungnya pun ramai sekali. Enggak kebayang bagaimana ekspresi kami apabila pagi harinya benar-benar nekat ke tempat ini.

Untung kami sudah melihat langsung kondisi di tempat tersebut. Mengunjungi patung putri duyung di Denmark saya coret dari daftar tempat wisata yang wajib dikunjungi di Denmark. Bye!

Tanpa terasa jalan-jalan hari pertama di Denmark berakhir. Begitu kapal berlabuh, kami bergegas menuju restoran untuk makan siang. Pukul 02.00 siang waktu Kopenghagen, seluruh rombongan bergerak menuju Aarhus. Kami akan bermalam selama tiga hari di sana.

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

1 comment

  1. Kak, keren blognya, salam kenal.

Tinggalkan Balasan