Medan Trip #1 : Aku Balek Kampong, Mamak !

– Kalau mau lebih cinta sama Jakarta, tinggalkanlah kota ini untuk sejenak (The Journeys 2) –

Alhamdulillah, hanya itu yang bisa saya ucapkan ketika tiket penerbangan ke Medan berada digenggaman tangan saya. Akhirnya, setelah 14 tahun tidak pulang ke kampung halaman, dimana saya dilahirkan, dibesarkan, sampai menghabiskan masa-masa sekolah dasar, saya akan menginjakkan kembali kaki ini di sana.

Jumat, 8 Juni 2012, saya menempuh waktu penerbangan 1 jam 45 menit dengan menggunakan pesawat “Visit Indonesia”. Selama di pesawat, sudah banyak hal-hal menarik menari di kepala saya. Mulai dari akan bertemu saudara-saudara, ziarah ke makam nenek dari ayah & ibu, wisata kuliner ke tempat-tempat yang ketika saya kecil menjadi favorit saya, sampai bertemu teman-teman masa kecil dulu. Semuanya tersusun rapi dan siap untuk direalisasikan.

Alhamdulillah, penerbangan pagi itu berjalan lancar. Maklum, saya ini rada parnoan untuk bepergian menggunakan pesawat. Yah, maklum saja, sedari saya kecil, saya lebih banyak melakukan perjalanan menggunakan kapal laut ketimbang pesawat. Padahal, ini penerbangan kesekian kalinya yang saya lakukan. Tetap saja, rasa parno itu masih menderah hidup saya. Ditambah pula, beberapa hari kemarin ada tragedi kecelakaan pesawat, semakin menambah keparnoan saya saja.

Untunglah, pesawat yang saya tumpangi ini memiliki pelayanan yang tidak membuat saya bosan ketika harus duduk berlama-lama. Saya bisa menyaksikan film yang belum sempat ditonton, yaitu Garuda Di Dadaku 2, plus, dapat makan pula. Klop.

Nonton Garuda Di Dadaku 2 (*koleksi Pribadi)
Berasa Melahap Porsi Diet

Waktu penerbangan 1 jam 45 menit tidak terasa sama sekali. Tiba-tiba saja sang pramugari mengumumkan bahwasanya, pesawat akan mendarat beberapa menit lagi. Saya buka penutup jendela, dan saya sudah dapat melihat bangunan-bangunan yang ada di bawah.

Tampak Dari Atas

Sesampainya di dalam bandar udara Polonia, yang terucap di benak saya adalah “Ooo.. Jadi ini toh, yang namanya Polonia itu?!? Sempit, ya. Semacam bandar udara Adi Soetjipto di Yogyakarta”. Setelah di luar, saya pun menunggu teman ayah yang akan membawa saya ke Mesjid Raya Medan. Karena tujuan utama saya ketika memutuskan pergi terlebih dulu ketimbang orang tua dan adik saya adalah bisa melaksanakan sholat Jumat di Mesjid Raya itu, jadi, ya.. saya harus ke Mesjid itu sesampainya saya di kota kelahiran saya. Tanpa perlu menunggu lama, teman ayah pun menampakkan batang hidungnya.

Masuk ke mobil, duduk manis, dan saya pun siap menikmati perjalanan singkat di hari pertama itu sebelum keluarga kami bertolak ke pedalaman kota Medan, Tebing Tinggi, untuk menghadiri resepsi pernikahan keponakan ayah sore harinya.

Gila.. Gila.. Gilaaaaa! Jalanan kota Medan semraut banget. Separah-parahnya kota Jakarta, masih lebih parah Medan lagi ternyata. Sadis. Di Jakarta, ketika lampu lalu lintas berwarna merah, semua kendaraan berhenti. Paling yang bikin pusing hanya suara klakson orang-orang yang tidak sabaran. Di Medan, lampu lalu linta sudah berwarna merah, masih ada lho, yang main nyerobot  gitu.

“Kalau di Jakarta lampu merah tanda berhenti, di Medan itu tanda berani. Ini Medan, bung!” kata teman ayah yang mungkin bisa membaca mimik wajah saya hari itu. Saya pun, hanya bisa membalas dengan senyum kecut.

Setelah melakukan perjalan singkat yang membuat jantung saya lemah, akhirnya, sampailah saya yang ditemani anak teman ayah itu di Mesjid Raya.

Subhanallah.. Megah sekali mesjidnya. Sayang seribu sayang, sepertinya kurang dijaga. Terutama di WC dan bagian untuk mengambil wudhu, airnya kecil, bahkan ga mengalir. Konon kabarnya, belakangan ini, di Medan sedang krisis air. Sering banget air mati. Untungnya, di dalam tempat pengambilan wudhu ada kolam besar yang airnya cukup jernih dan bisa digunakan untuk berwudhu.

Mesjid Raya Tampak Dari Depan
Tampak Bagian Samping

Ditambah lagi, tak adanya tempat penitipan sepatu. Jadi, sepatu dititipkan ke mereka yang bersedia menjaga sandal serta sepatu para jamaah yang hendak melaksanakan sholat. Aman, sih, aman.. Hanya saja, ketika hujan besar, siap-siap saja kebasahan.

So far, saya senang bisa melaksanakan sholat Jumat di Mesjid Raya ini. Walau pun masih ada kekurangan disana-sini. Semoga, Pemerintah Kota Medan lebih memperhatikan peninggalan sejarah itu. Amin!

To be continued … 😀

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

26 comments

  1. aku dari dulu belom jadi2 mau sholat di sini dek mudah2an suatu hari ya
    menurut informasi memang medan skrg hantunya macet

    1. Dan, hantu itu benar adanya. Macetnya ngalahin Jakarta. :'(

  2. ini medan bung… lampu merah tanda berani… asyik tuh…

    megah masjidnya… bagusnya.. semoga ada perawatanya.. supaya tidak kelihatan bagus luarnya saja…

    1. sayang, kemarin mau moto dalamnya sedikit dilarang. 🙁

  3. Ah Medan, dulu waktu di Padang sudah berkali-kali berencana ke Medan tapi enggak jadi-jadi.. 🙁

  4. keren, tempat yang bagus masjidnya 😀

    eeh masak yaa merah berani tapi kalau lalu lintas di trobos ajah, sipoli nya gag nilang yaa mas dit?

    1. Yah, nekat-nekatan. Yang jaga sedikit polisinya. Jadi ya gitu, hantam blehhhh!

  5. waa senengnya… kutunggu lanjutan ceritanya ya… sama gambar Adit lagi makan pancake durian-nya 😀

    1. spoiler: ga akan menemukan aku lagi makan pancake durian. Tengsin mau minta difotoin 😀

  6. eh dit lama juga yg penerbangannya padahal dari jkt-KL klo ga salah 1 jam.

    bika ambonya man kirimmmmm…

    1. Jakarta-KL beda tipis kayak Jakarta-Batam. Medan kan masih jauh lagi dari Batam. Batam Medan aja butuh waktu 45 menitan

  7. Nggak sempet mampir Masjid Raya waktu ke Medan kemarin, habisnya lama perjalanan ke Parapat. 🙂

    Waladalah, 14 tahun ngga pulkam?

    1. Yes, Mbak. Keluar dari Medan ketika usia menginjakkan 10 tahun.

  8. Nggak sabar untuk nunggu oleh2nya… #eh… cerita selanjutnya hehehe

  9. mesjidnya tapi tampak bagus sekali Dit kalau dari luar, ngga kelihatan WC dan airnya kecil 😀
    part 2 nya jangan lama2 yah 😛

  10. Kalau bisa nyetir di Medan, hebatttt deh, soalnya kebanyakan jalan tdk ada lampu lalu lintas? klo ada jg seringnya dilanggar 😀

    1. Berarti mama ku hebat, dong? Horeeeee. Seneng punya mama hebat.
      Mamaku nyetir lho dari Polonia ke Tebing Tinggi

  11. waktu pertama kali ke Medan aku nginep di hotel Madani yang berada persis di sebrang Mesjid Raya ini, dan pemandangan kamarku langsung menghadap Masjid Raya…

  12. wuih mesjidnya bgaus baget ditt..kalo di tempatku mesjid raya dah hampir sepuluh tahun belum kelar2 pembangunan nya…

  13. Porsi diet ternyata tidak berubah sejak beberapa tahun lalu. Pernah dari Denpasar ke Jakarta, dan Jakarta ke Padang menikmati porsi ini…

  14. Duhhh…
    Liputanmu lengkap ya Dit…
    ditambah pula menu makanan di Garuda itu…

Tinggalkan Balasan