Intip Kehidupan Para Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha

Pertengahan April yang lalu, saya diutus kantor untuk meliput kegiatan yang ada di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 1, Cipayung, Jakarta Timur. Mendengar tempatnya, saya excited banget. Secara, selama ini belum pernah menginjakkan kaki di panti jompo manapun itu.

Setelah menempuh perjalanan 45 menit dari kantor, saya pun sampai di sana. Hari itu, panti Tresna Werdha sedang mengadakan senam untuk para jompo yang bertujuan membuat aki dan nini-nini itu hidupnya lebih sehat lagi.

Tapi ya, namanya juga orang tua, bukannya senam sebagian darinya malah duduk-duduk-unyu mengumbar senyum ke sana sini ke setiap orang yang melihatnya. Mata ini mulai melirik sekitar, melihat kira-kira mana yang bisa menjadi berita.

Tiba-tiba saja mata ini fokus ke 3 aki-aki yang lagi senam. Lucu sih, melihat ketiganya bergoyang. Dan lebih lucu lagi, waktu saya iseng bertanya ke mereka, “Aki memangnya tidak capek, senam seperti ini?”, jawabannya, “Enggak dong, senam ‘kan enak. Habis itu pelatihnya cantik, dan lagunya dangdut.”

Walaupun sudah aki-aki ya booo, teteup dese fokus ke pelatih senam yang memang cantik itu.

Trio Aki-aki
Sang Instruktur Senam

Setelah senam usai, para lansia itu diberi kejutan berupa kehadiran penyanyi dangdut Ike Nurjanah, yang siap memanaskan hari Jumat pagi itu. Nah, di sini nih, bagian yang cukup bikin hati ini nyesek.

Bagaimana tidak, saya melihat mimik wajah para lansia itu tersenyum lebar, dan merasa beban hidupnya untuk sementara waktu hilang karena dihibur sama Ike. Bahkan, ada satu kakek yang merengek minta diajak ke depan (yang sebelumnya berada di kamarnya di halaman belakang) hanya untuk bergoyang dan bertemu dengan Ike Nurjanah.

Sayangnya, Ike tidak dapat berlama-lama menghibur para lansia tersebut. Setelah selesai menyanyikan 3 buah lagi, dia harus pamit untuk mengisi acara di tempat lain.

Setelah selesai senam dan bergoyang dangdut bersama Ike, para lansia dibawa masuk untuk dilakukan pengecekkan kesehatannya.

 

Ike Nurjanah on stage
Aki yang merengek itu
Lansia lakukan pengecekkan kesehatan

Menurut saya, tempatnya asyik banget, plus asri. Kaki ini pun membawa saya melihat satu per satu ruangan yang ada di sana. Saya rasa tempat itu layak untuk ditinggali para lansia yang tak mampu itu. Toh, pihak panti jompo menyediakan segala keperluan untuk mereka.

Panti Sosial itu sendiri merupakan unit dari Dinas Sosial DKI Jakarta, di bawah koordinas Pemerintah DKI Jakarta, yang khusus mengurusi para lansia. Bertingkat 2 dan hanya sanggup menampung 200 orang lansia.

Tidak hanya ditampung begitu saja, kebutuhan sandang (pakaian lengkap, fasilitas untuk ibadah, olahraga) sampai keperluan pangan (makan 2 kali sehari, snack, buah dan susu) semuanya diberikan ke mereka. Bahkan, jika di antara para aki dan nini itu ada yang meninggal dunia, jenazahnya diurus sebaik-baiknya sampai ke liang lahat.

Penampakan Panti Sosial
Penampakan II

 

Menurut sang ketua Panti, Ibu Tuti, para lansia yang berada di panti itu berasal dari berbagai asal. Ada yang dirujuk dari PSBI (Panti Sosial Bina Insan), rumah sakit (sang anak meninggalkan orangtuanya begitu saja pada saat dirawat), ditemukan polisi di jalan, sampai ada yang datang sendiri dengan suka rela.

Wartawan yang lain asyik dengan kegiatannya (dan saya sudah melakukan wawancara sendiri), saya memutuskan untuk berkeliling di Panti Jompo Tresna Werdha tersebut.

Bilik

Kelakuan mereka unik, nyentrik, dan ada yang bikin hati ini meringis. Waktu saya ke bilik para nini, ada satu nini yang malah menjadikan saya tempat curhatnya. Nini itu cerita, dirinya tidak betah tinggal di sana. Bukan, bukan karena tidak mendapatkan pelayanan yang gimana-gimana, nini itu sih ngakunya terbiasa hidup di jalan. Dia bebas melakukan apa saja, makan pun kalau di luar di bebas mau makan apa saja. Sedangkan di panti, makanannya untuknya dilihat nilai gizi dan kesehatannya.

Di akhir curhatannya, nini itu bilang kalau dia juga ngga mau balik ke rumah anaknya. Dia takut nyusahin anaknya yang seorang penyapu jalanan dengan 4 orang anak. Miris.

Ada juga yang lucu. Satu nini ada yang hobi mendoakan setiap orang yang salaman sama dia. Doanya macam-macam. Tapi, pas di saya dia mendoakan saya, “Semoga kamu diberi jodoh sama Tuhan ya, nak. Jodoh yang baik.” Aminnnn… Hehehehe…

yang curhat ke saya
Nini yang mendoakan saya

Selesai nini itu curhat, saya melanjutkan penjelajahan saya ke bilik para aki. Ketika saya memotret lingkungan di sana, segerombolan aki memanggil saya untuk memoto mereka. “Nak, sini, sini, sini. Foto kami saja. Kami masih lucu, kok,” ujar salah seorang dari aki-aki itu. Yaudah, biar si aki senang, saya pun memotret mereka. Ternyata, yang mau diprotet cuma 3 orang, yang lainnya enggan (karena lagi merokok) 😆

Mimik si aki yang satu itu, lucu ya

Di sana saya ketemu Gayus, dong. Bukan Gayus yang ketahuan ke luar penjara dan menyaksikan pertandingan tenis di Bali itu lho, ya. Tapi ini seorang aki yang mengaku kalau namanya dia Gayus.

Kakek Gayus ini merokoknya kuat banget. Dia mengaku dalam sehari bisa menghabiskan 8 sampai 9 batang rokok. Saya tanya, ngga takut sakit, dengan santai dia menjawab, “Sakit kok ditakutin!?! Takut itu sama Allah SWT,” #okesip.

Kakek Gayus

Setelah 3 jam puas muter dan ngobrol dengan para lansia di sana, saya memutuskan untuk pulang ke kantor. Di sepanjang perjalanan, 2 orang teman wartawan tertidur pulas, sedangkan saya hanya memikirkan bagaimana nasib orangtua saya nanti. Bahkan, sempat-sempatnya saya memikirkan bagaimana nasib saya pas tua kelak, ya. Apakah saya bahkan ditelantarkan anak-anak saya? Apakah saya akan dicampakkan begitu saja oleh mereka? Oooo Tuhan, semoga itu tidak terjadi pada saya ke orangtua saya, dan anak-anak saya ke saya kelak.

Mau lihat foto-foto lainnya, klik saja !

Aditya Eka Prawira

Bahagia itu sederhana. Mending beri saya 10 helai baju untuk dicuci ketimbang 1 helai baju untuk disetrika :)

More from this author

20 comments

  1. semoga kelak aku bisa ke sana lagi

    1. kalau begitu harus siap siap kalau tua nanti ke sana lagi… :) semoga nanti dirimu dirawat di rumah sama anak dan cucu ya Dit…

      1. Mas Applaus juga, ya :’)

  2. Terharu bacanya Dit.
    Mereka sudah tua dan pasti butuh perhatian … kapan2 ke sana yuk… bikin visit dgn DP…

    1. ayok banget. Aku punya kontak ketuanya

  3. kehidupan masa tua itu ada lucu ada sedihnya
    apa lagi kalo liat foto-foto diatas kakek-nenek yang tinggalnya udah gak dirumah lagi..

    hmmm..

    1. iya! Waktu ngobrol sama mereka pun, aku merasakan hal yang sama

    1. dosen macam apa ini? komen hanya untuk promo. #sigh #digampar

      1. Hahaha…lama-lama keren jg dit blog nya…. Salah kalo dosen matkul softskill nya gak ngasih nilai A 😀

        1. hahahaha.. iya deh, iya, softskill 😆

  4. adit pernah ngeliput panti jompo swasta yg eksklusif gitu gak? yg berbayar? (kalo yg ini kayaknya penghuninya gak bayar kan?)

    1. belum. next time ke sana kayaknya. Ada ya? Kasihan banget :(

  5. separah apapun keadaan kita moga2 jangan sampai kita membawa ortu kita ke panti werda

  6. Jaman sekarang pertanyaannya emang gt ya dit..

    Semoga aja kita masih dikelilingi anak cucu. walopun cita cita aku menyekolahkan anak jauh ke luar negeri dan memberikannya pilihan utk hidup disana.

    Ya kita lihat aja nanti :)

  7. ternyata ada juga ya yg emang ga mau pulang karena takut nyusahin anaknya.. :)

  8. Boleh Tau alamat lengkap/lokasi Panti ini? Plus patokan jalan nya kalau bisa.. Thanks

  9. Saya pernah mendengar kalau di Bogor (Cipayung), ada panti swasta (mungkin semacam perumahan) khusus untuk orang tua. btw, boleh minta alamat lengkap panti ini nggak?
    Saya sendiri kerja part-time sambil kuliah di aged-care residential place / nursing home (panti perawatan untuk orang tua). Terimakasih

  10. mohon nomer kontak panti werdha yg bisa dihubungi dong dan alamatnya sekalian untuk visit, langsung aja hub sy via call / sms ya…nh nomernya => 081318285391 (tommy)

Leave a Reply